Rabu, 10 Februari 2016

CERITAKU



Keadaan Yang Harus di Biasakan

Jadilah Seperti Mawar Yang Indah Tetapi Tidak Seperti Durinya
JanganMenjadi Indah Tetapi Kadang Menyakiti
Jangan Pula Menjadi Indah Hanya Sekedar Untuk Dipandang

Sedikit dilema yang mungkin sedang dirasakan, terkadang menjadi pengganggu. Ingin mengungkapkan tetapi sering kali bimbang. Mungkin karena kurang dewasanya dalam berfikir dan mengambil keputusan. Sekedar ingin berbagi cerita Ini adalah kisah disekolahku berdasarkan keadaan yang benar adanya. Entahlah mana yang terlebih dahulu ku ceritakan, aku menulisnya sesuai dengan keadaan hatiku, kemungkinan yang juga dirasakan oleh teman–temanku.
Aku bahkan temanku merasa bahwa sedikit banyaknya kami sudah lebih dewasa untuk berfikir mengenai permasalahan yang biasanya terjadi dilingkungan sekolah, tetapi ternyata tidak pada pola fikir kami. Bahkan sekarang kami merasa sangat kecil dan berfikir pendek ketika suatu masalah sedang menimpa kelas kami.
Sedih rasanya ketika mengingat apa yang terjadi dan baru terfikirkan. Pada hari itu tepatnya pada tanggal 6 November 2015 pikiranku sedikit terganggu bahkan bukan sedikit dari teman- temanku yang juga merasakannya. Sebenarnya tidak jarang aku dan teman-temanku merasakan kejanggalan disekolahku. Aku duduk dibangku SMA, dan sekarang aku sudah duduk di kelas dua belas.
Pada hari itu kami ditugaskan untuk menjadi petugas upacara, namun ada beberapa masalah yang akhirnya membuat kami mengurungkan niat untuk menjadi petugas upacara. Tidak sedikit juga dari para guru yang kelihatannya kurang menyukai murid dikelasku. Kami memiliki wali kelas yang bias dibilang sangat sabar, terlebih setelah mendengar cerita dari beberapa guru bahwa wali kelas kami sudah sering kali ditegur dengan kata- kata yang mungkin bisa dibilang cukup menyakiti, tetapi ia hanya menyimpannya didalam hati dan sesekali bercerita pada guru BK (Bimbingan Konseling) yang ada disekolah ‘’hanya guru BK (Bimbingan Konseling) yang satu itu saja yang dirasa akan mengerti dan mendengarkan dengan baik.‘’
Aku sangat tidak paham mengenai kejanggalan yang ada, Kelasku juga sering kali dijadikan bahan perbincangan dari beberapa guru. Kami sering kali merasa dijatuhkan dengan bahasa yang kurang menyenangkan. Anehnya kelas lain yang bisa dibilang tidak jauh bedanya bahkan ada yang lebih kurang sekalipun, tidak dijadikan perbincangan. Mulai dari project kelas yang dihilangkan, mungkin mengenai hal itu bias dipahami. Tetapi yang terkadang sering membuat gerah pikiran kami adalah sudah lebih dari 2 tahun murid dikelasku ditempatkan di ruangan yang mana AC dikelas kami yang kurang berfungsi dengan baik tidak kunjung di perbaiki, juga proyektor yang sudah rusak, bahkan sampai stok kontak yang seharusnya wajib diperbaiki yang mungkin saja sewaktu-waktu dapat membahayakan murid. Tetapi pihak sekolah juga tidak lekas memperbaikinya, hanya sering kali menjanjikan tanpa melakukan perbaikan.
Puncaknya ketidak puasan yang dirasakan selama kurang lebih 2 tahun ini sudah banyak, kami mencoba kritis terhadap setiap kejadian yang ada. Tetapi lagi- lagi pihak sekolah pun tidak kunjung menyikapinya. Entah kami yang terlalu banyak bicara atau pihak sekolah yang memang tidak mengerti bahasa kritis murid yang ada di kelasku.
Wajar saja bila seandainya kami kritis saat- saat seperti ini adalah saat dimana kami mengalami masa transisi menuju pendewasaan, kami hanya terus bersabar dan tentunya sering kali mengeluarkan kata- kata yang seharusnya tidak diucapkan. Sekolahku ini adalah sekolah yang mayoritasnya muslim, tetapi mengapa tidak sedikit dari beberapa guru yang bias dibilang ilmu keagamaannya jauh lebih tinggi justru mencoba menjatuhkan. Bisa dibilang juga pencitraan dan kekuasaan disekolah yang memihak.
Sekolah harusnya mempersatukan bukan malah sebaliknya mencoba menjatuhkan. Lagi- lagi beberapa ocehan yang membuat telinga panas terdengar, mereka memberitahu kami dan mengkritik yang tanpa disadari ini juga termasuk kesalahan dari mereka.
Aku rasa aku dan teman-temanku memang sudah seharusnya untuk kritis sebagai bagian dari pengingat salah satu tugas guru yaitu, mengayomi setiap murid tanpa membeda- bedakan. Karena bisa dianggap apa yang terjadi saat ini adalah bagian dari kezaliman yang di implementasikan oleh sebagian dari guru bahkan staf sekolah yang kurang menyukai sikap murid yang ada dikelasku.

Untuk guru yang pernah bahkan juga yang sudah sangat menyakiti hati setiap kami. Rasanya bisa sama-sama kita ingat mengenai…
Penyebab kejahatan yang tidak pernah boleh diabaikan adalah : kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat tapi karna diamnya orang baik…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar